Fasilitas perawatan pesawat di Bandara Hang Nadim terus bertambah luas. Batam menargetkan diri menjadi pusat MRO terbesar di Asia Tenggara dengan ribuan teknisi lokal.
BATAM — Deru mesin pesawat di sisi timur Bandara Hang Nadim kini bukan hanya berasal dari penerbangan komersial. Batam Aero Technic (BAT), fasilitas perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) pesawat, terus memperluas hanggarnya dan menargetkan kapasitas perawatan ratusan pesawat per tahun dalam beberapa tahun ke depan.
Perluasan ini menempatkan Batam di peta industri kedirgantaraan regional. Selama ini maskapai Indonesia banyak menerbangkan pesawatnya ke luar negeri untuk perawatan besar. Dengan fasilitas di Batam, devisa yang tadinya mengalir keluar bisa ditahan di dalam negeri, sementara posisi Batam yang bersisian dengan jalur penerbangan padat Selat Malaka menjadi nilai jual bagi maskapai asing.
Dampak paling nyata bagi warga adalah lapangan kerja. Ribuan teknisi telah bekerja di kawasan itu, dan kebutuhan akan terus bertambah seiring bertambahnya lini hanggar. Menariknya, sebagian besar teknisi baru direkrut dari politeknik dan SMK penerbangan di Batam serta daerah lain di Kepulauan Riau, yang kurikulumnya kini disesuaikan langsung dengan kebutuhan industri MRO.
Pemerintah kota dan BP Batam menyokong lewat penyediaan lahan sisi udara dan kemudahan kawasan perdagangan bebas, sehingga suku cadang pesawat bisa keluar-masuk tanpa proses kepabeanan yang berbelit. Kombinasi itu membuat biaya perawatan di Batam kompetitif dibanding Singapura maupun Malaysia.
Bila target kapasitas tercapai, Hang Nadim tidak lagi sekadar bandara transit barang dan penumpang, melainkan bengkel pesawat raksasa Asia Tenggara — dengan anak-anak muda Batam sebagai montirnya.