Kawasan Nongsa membuktikan wisata dan ekonomi digital bisa berjalan beriringan. Akhir pekan di sana kini diisi pekerja teknologi, kreator konten, dan keluarga pemburu pantai.
BATAM — Ada suasana yang tidak biasa di ujung timur laut Batam. Di Nongsa Digital Park, anak-anak muda berjalan kaki dari kantor studio animasi menuju pantai berpasir putih hanya dalam lima menit. Sore harinya, kafe-kafe di kawasan itu dipenuhi campuran unik: pekerja teknologi dari berbagai negara, kreator konten lokal, dan keluarga Batam yang datang berburu matahari terbenam.
Nongsa memang dirancang sebagai jembatan digital antara Indonesia dan Singapura. Statusnya sebagai kawasan ekonomi khusus membuat perusahaan teknologi mendapat berbagai kemudahan, dan jaraknya yang hanya sekitar 40 menit feri dari Singapura menjadikannya lokasi favorit perusahaan yang ingin biaya operasional lebih ramah tanpa menjauh dari klien.
Namun bagi warga Batam, sisi paling terasa justru wisatanya. Resor-resor lama di pesisir Nongsa mendapat energi baru: paket menginap kini digabung dengan tur studio, lokakarya animasi untuk pelajar, hingga festival musik pantai skala kecil yang rutin digelar. Sekolah-sekolah di Batam mulai menjadikan kawasan ini tujuan kunjungan belajar, memperkenalkan profesi animator dan pengembang gim kepada siswa.
Pelaku usaha kecil ikut kecipratan. Warung seafood di kampung sekitar melaporkan pengunjung yang lebih beragam, sementara jasa sewa sepeda dan perahu nelayan untuk wisata bakau tumbuh di sepanjang pesisir.
Tantangannya kini adalah menjaga keseimbangan: pembangunan fasilitas baru harus tetap ramah pada kampung pesisir dan hutan bakau yang menjadi daya tarik kawasan. Sejauh ini, Nongsa menunjukkan bahwa laptop dan pantai bisa akur dalam satu kecamatan.