Infrastruktur

Proyek Jembatan Batam–Bintan Masuki Tahap Penyiapan Lahan di Sisi Tanjung Sauh

4 Juli 2026 · 2 menit baca

Jembatan sepanjang hampir 15 kilometer yang menghubungkan Batam dan Bintan mulai memasuki tahap penyiapan lahan. Skema pendanaannya menggabungkan APBN dan kerja sama badan usaha.

BATAM — Mimpi lama warga Kepulauan Riau untuk menyeberang dari Batam ke Bintan tanpa kapal selangkah lebih dekat. Proyek Jembatan Batam–Bintan, yang akrab disebut Jembatan Babin, dilaporkan memasuki tahap penyiapan lahan di sisi Tanjung Sauh dan Pulau Buau, dua titik tumpu utama di tengah lintasan.

Jembatan ini dirancang membentang hampir 15 kilometer, menjadikannya salah satu jembatan laut terpanjang di Indonesia bila rampung. Trasenya dimulai dari kawasan Batam Centre, melompat ke Tanjung Sauh, menyinggahi Pulau Buau, lalu mendarat di pesisir barat Bintan. Skema pendanaan menggabungkan anggaran pemerintah dan kerja sama pemerintah dengan badan usaha, mengingat nilai proyek yang mencapai belasan triliun rupiah.

Dampak ekonominya diproyeksikan besar. Bintan yang kuat di sektor pariwisata dan Batam yang padat industri akan saling mengisi: pekerja bisa tinggal di satu pulau dan bekerja di pulau lain, logistik antar kawasan industri tidak lagi bergantung pada jadwal tongkang, dan wisatawan dari Singapura bisa menjelajah dua pulau dalam satu perjalanan darat.

Meski demikian, sejumlah pekerjaan rumah masih menunggu. Pembebasan lahan di titik pendaratan, penataan alur pelayaran di bawah bentang utama, serta kesiapan jalan penghubung di kedua sisi harus berjalan seiring. Pengamat transportasi mengingatkan agar akses menuju kaki jembatan di Batam Centre disiapkan sejak dini supaya tidak menjadi titik macet baru.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, konstruksi fisik bentang utama ditargetkan dimulai dalam waktu dekat dan memakan waktu beberapa tahun. Bagi warga dua pulau, hitungan mundur itu sudah lama dinanti.

#jembatan-babin #bintan #kpbu #transportasi