Pedagang kuliner di kawasan Nagoya mencatat lonjakan pembayaran nontunai. Program pendampingan digital dan ramainya wisatawan Singapura jadi pendorong utama.
BATAM — Kawasan Nagoya kembali menunjukkan denyutnya sebagai pusat kuliner Batam. Para pedagang di sepanjang Nagoya Hill hingga gang-gang legendaris di belakangnya melaporkan transaksi pembayaran digital yang naik hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu. Kode QR kini terpajang hampir di setiap gerobak, dari penjual luti gendang sampai kedai kopi peranakan.
Lonjakan itu tidak datang sendiri. Program pendampingan UMKM yang digelar bersama perbankan dan komunitas lokal gencar mengajari pedagang mengelola katalog daring, mencatat kas, dan menerima pembayaran nontunai. Bagi wisatawan Singapura dan Malaysia yang datang lewat pelabuhan feri Harbour Bay dan Batam Centre, kemudahan memindai QR lintas negara membuat belanja makin ringan.
Salah satu pemilik kedai sup ikan di Nagoya bercerita, hampir separuh pembelinya kini membayar tanpa uang tunai. Ia juga mulai menerima pesanan lewat aplikasi percakapan, lengkap dengan layanan antar ke hotel-hotel sekitar. Omzetnya di akhir pekan bisa naik hingga sepertiga dibanding hari biasa.
Dinas terkait mencatat ribuan pelaku UMKM di Batam telah masuk ekosistem digital, tetapi pekerjaan belum selesai. Banyak pedagang generasi lama masih kesulitan mengurus perizinan dan sertifikasi halal yang menjadi tiket masuk ke pasar oleh-oleh modern. Pendampingan tahap berikutnya akan fokus ke sana.
Bagi warga dan pelancong, kabar baiknya sederhana: kuliner Nagoya makin mudah dijangkau, dibayar, dan dipesan — sementara rasa otentiknya tetap dijaga tangan-tangan yang sama seperti puluhan tahun silam.